Senin, 16 Mei 2016

Dampingan kasus Lopo Cerdas Nasdem di Oefafi"Polisi Dalami Kasus Dana Bos SDN Oefafi"


Polisi Dalami Kasus Dana Bos SDN Oefafi

BERTEMU DIRESKRIMSUS  Adi Melijati Tameno (ketiga dari kiri) didampingi aktivis Lery Mboeik dan Libby Sinlaeloe, foto bersama saat bertemu Direskrimsus Polda NTT AKPB Yudi Sinlaeloe (ketiga dari kanan), pekan kemarin. VN/YANCE JENGAMAL.


Kalau dugaan penyelewengan dana BOS terbukti, maka dengan sendirinya kasus penghinaan yang dilaporkan mantan kepsek dipatahkan.
Yance Jengamal
PENYIDIK tindak pidana korupsi (Tipikor) Polres Kupang terus mendalami dugaan korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) SD Negeri Oefafi, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang.
Demikian disampaikan Kapolres Kupang AKBP Michael Ken Lingga melalui Kasat Reskrim AKP Kurniawan Daeli kepada VN, Selasa (15/3).
Kurniawan menjelaskan, saat ini penyidik sementara fokus melakukan pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket) terkait dugaan penyelewengan pengelolaan dan BOS SDN Oefafi.
Menurutnya, dalam pendalaman kasus tersebut, pihaknya telah meminta keterangan sejumlah pihak, di antaranya Adi Melijati Tameno (guru Yati), dan manajer dana BOS Dinas PPO Kabupaten Kupang. Sementara itu, mantan Kepala SD Negeri Oefafi Daniel Sinlae hingga saat ini belum diambil keterangan terkait dugaan penyelewengan tersebut.
“Kami sedang melakukan pulbaket. Ada sejumlah pihak yang sudah kami undang untuk diambil keterangannya,” jelasnya.
Ditanya terkait tindak lanjut dari kasus yang menimpa guru Yati yang telah dilaporkan Daniel Sinlae, mantan kepala SDN Oefafi dengan tuduhan melakukan fitnah, Kurniawan menjelaskan, kasus tersebut juga telah ditindaklanjuti. Sampai saat ini pihaknya  sudah memeriksa terlapor Yati Tameno dan mantan Kepala SD Negeri Oefafi Daniel Sinlae.
Namun, kata dia, belum ada pihak yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus laporan pemfitnahan tersebut. Karena, pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi.
“Kasus dugaan pemfitnahan itu berawal dari masalah dana BOS. Nanti kalau dugaan penyelewengan dana BOS yang disampaikan dalam keterangan Ibu Yati terbukti, maka unsur pidana pemfitnahan yang dilakukan Ibu Yati bisa saja hilang,” tegasnya.
Kurniawan menambahkan, kasus yang menimpa guru Yati mendapat perhatian dari banyak pihak termasuk LSM. Pada Senin (14/3), beberapa pimpinan LSM menemui dirinya di Mapolres Kupang untuk menyampaikan akan mengawal proses hukum kasus dugaan penyelewengan dana BOS tersebut.
Terpisah, Direktris PIAR NTT Sarah Lery Mboeik mengatakan, pihaknya akan intens melakukan pendampingan terhadap Yati Tameno.
Lery mengaku, Senin (14/3), dirinya mendampingi korban untuk diperiksa dan memberikan keterangan terkait dugaan penyelewengan dana BOS SDN Oefafi di Mapolres Kupang. Pada saat yang sama, kata Lery, dirinya juga telah menemui penyidik Tipikor Polres Kabupaten Kupang untuk meminta penyidik terlebih dahulu mengusut kasus dugaan korupsi dana BOS sebelum mengusut kasus penghinaan dan pencemaran nama baik yang dilaporkan mantan Kepala SDN Oefafi itu.
“Pihak penyidik sudah sepakat untuk terlebih dahulu mengusut kasus dugaan penyelewengan dana BOS. Artinya, kalau terbukti kasus dana BOS ada penyelewengan, maka dengan sendiri laporan kasus penghinaan yang dilaporkan mantan Kepsek Daniel Sinlae akan dipatahkan dengan sendirinya,” paparnya. (R-3)

DPR RI Berkomitmen Bantu Warga Bokong

DPR RI Berkomitmen Bantu Warga Bokong

KETUA Fraksi Partai NasDem DPR RI Viktor Bungtilu Laiskodat atau akrab disapa VBL, menyatakan komitmennya memberikan perhatian serius pada sektor pertanian dan peternakan di Kabupaten Kupang, khususnya di Desa Bokong, Kecamatan Taebenu, serta wilayah di sekitarnya.
Selain bidang pertanian dan peternakan, Viktor juga bertekad  memperjuangkan pemberdayaan masyarakat khususnya dalam mengembangkan kerajinan tenun ikat kaum perempuan di wilayah itu.
Hal tersebut disampaikan Viktor usai mendengarkan aspirasi sekitar 500-an warga Kecamatan Taebenu dan warga Kecamatan Amarasi Barat, Selasa (22/3) di Gereja Talitakumi Naiobe, Desa Bokong, Kecamatan Taebenu.
Hadir mendampingi Viktor dalam kegiatan reses tersebut, di antaranya Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Kupang yang juga Ketua Fraksi NasDem DPRD Kabupaten Kupang Sofia De Haan, anggota Fraksi NasDem DPRD Kabupaten Kupang, Wakil ketua DPRD NTT yang juga Sekretaris DPW NasDem NTT Alex Ofong, anggota Koordinator Daerah Partai NasDem NTT Sarah Lery Mboeik, Pakar Pariwisata Nasional Rocky Pekudjawang, tokoh muda Nasional Ansy Lema, serta para kader Partai NasDem Kabupaten Kupang.
Menurut Viktor, hampir semua daerah di seluruh Indonesia mempunyai masalah yang sama. Masalah tersebut berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, air bersih, dan aneka masalah sosial kemasyarakatan lainnya yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Namun dari semua masalah tersebut harus ada yang menjadi prioritas utama dalam penyelesaian. Mengingat keuangan negara yang jumlahnya relatif terbatas.
“Yang menjadi prioritas di sini (Desa Bokong) adalah pembangunan sektor pertanian, peternakan, dan juga kerajinan tradisional tenun yang menjadi potensi masyarakat yang harus dikembangkan. Untuk bidang peternakan, perlu didorong sehingga Desa Bokong menjadi gudang ternak. Tips untuk menjadikan Desa Bokong sebagai gudang ternak yakni dengan mendirikan koperasi,” ujarnya.
Ia menyarankan agar lembaga gereja dan Pemerintahan Desa membangun koperasi bersama. Koperasi sangat efektif untuk menangkap program dan anggaran dari pemerintah. Adanya koperasi menunjukkan adanya kesiapan masyarakat dari sisi mental, managemen, moral, serta keberanian, serta tanggung jawab, serta semangat untuk mengembangkan usaha. “Modal dana itu gampang. Yang paling penting ada modal semangat dulu untuk berusaha. Salah satunya dengan bangun koperasi,” tegasnya.
Guna menunjang pengembangan ternak dan pertanian, Viktor menekankan pentingnya ketersediaan air bersih sehingga perluh didorong pembangunan sumur bor dan pipanisasi.
Sedangkan untuk sektor kerajinan tenun ikat, diperlukan pemberdayaan bagi masyarakat yang memiliki keahlian di bidang kerajinan tradisional tenun. Viktor siap membeli semua hasil tenun masyarakat jikalau memang tenun tidak laku di pasaran. Tenun tersebut akan dipasarkannya lewat butik di Jakarta. Sekaligus akan menjadi souvenir saat kegiatan ke luar negeri.
“Tentu kita akan buat secara bertahap melalui perencanaan yang baik sehingga benar-benar bermanfaat langsung untuk masyarakat. Semua catatan-catatan dan aspirasi yang sudah disampaikan tentu wajib untuk saya perjuangkan di DPR RI, sebab sebagai wakil rakyat wajib bagi saya untuk memperjuangkan semua aspirasi masyarakat ini,” tegasnya.
Kerajinan Tangan
Olimpas Lihu, seorang ibu runah tangga, meminta kepada Viktor untuk memperjuangkan anggaran modal usaha bagi kaum perempuan di Desa Bokong dalam mengembangkan usaha kerajinan tangan khususnya menenun. Pasalnya banyak perempuan Desa Bokong yang memiliki kemampuan menenun namun tidak memiliki modal usaha. Dirinya juga meminta agar membuka akses pasar bagi hasil tenun perempuan di desa tersebut. “Kami perempuan Bokong bisa tenun tetapi modal tidak ada. Kami minta agar kalau bisa kami dikasih modal usaha,” tegasnya.
Pdt Ambrosius Menda mengangkat soal masalah pertanian dan peternakan. Menurutnya, Desa Bokong memiliki potensi pertanian dan peternakan. Untuk bidang pertanian sampai saat ini masih dikelola secara tradisional sehingga lahan yang begitu luas tidak dapat dikerjakan secara maksimal karena keterbatasan tenaga manusia yang lebih kecil jika dibandingkan dengan potensi serta luas lahan yang sangat besar. Sementara di sektor peternakan, jumlah warga yang memiliki ternak sapi sangat sedikit. Padahal daerah itu sangat potensial untuk pengembangan ternak. Kendala lain adalah keterbatasan ketersediaan air.
Kepala Desa Bokong Nitanel Atimeta menyampaikan apresiasi atas kunjungan Viktor dan rombongan. Sebab baru kali ini desa mereka dikunjungi anggota DPR RI. Ia berharap, kehadiran DPR RI dari Pusat tersebut, dapat memberikan solusi nyata atas semua aspirasi dan harapan masyarakat yang diimpikan selama ini. (yan/M-1)

Kornelis Dua Kali Bertemu Alexander Aplugi

KORNELIS Lodo yang diduga diperas oleh oknum perwira Polda NTT Kompol Alexander Aplugi mengakui dua kali bertemu dengan Alexander Aplugi. Salah satu pertemuan tersebut terjadi di rumah Alexander Aplugi. 
Sementara Daud Ena, mengakui bahwa dirinya sebagai saksi yang mengantarkan Kornelis Lodo untuk bertemu dengan Alexander Aplugi. Bahkan, Daud Ena mengakui melihat Kornelis Lodo memberikan sejumlah uang kepada Alexander Aplugi tapi tidak bisa memastikan jumlah uang yang diserahkan tersebut.
Hal itu diungkapkan Kornelis Lodo dan Daud Ena usai menjalani pemeriksaan Propam Polda NTT, Sabtu (6/12). Menurut Kornelis Lodo, dirinya akan diperiksa lagi oleh Propam Polda NTT, karena itu, dia berharap, Propam Polda NTT dapat menuntaskan kasus tersebut, seadil-adilnya.
Kornelis Lodo menambahkan, setelah melaporkan kasus tersebut ke Lopo Cerdas NasDem yang dikelola Sarah Leri Mboeik, dirinya telah menjalani pemeriksaan Propam Polda NTT. Bahkan, istrinya pun sudah diambil keterangannya oleh penyidik Propam Polda NTT, begitu pun dengan saksi Daud Ena.  Terpisah, Daud Ena menjelaskan, dirinya ditanyai beberapa pertanyaan oleh penyidik Propam Polda NTT. Salah satu pertanyaan adalah, apakah dirinya melihat Kornelis Lodo menyerahkan uang kepada Alexander Aplugi. Menurut Daud Ena, di hadapan penyidik Propam Polda NTT, dirinya mengakui bahwa dia melihat penyerahan uang tersebut, tapi tidak bisa memastikan jumlah uang yang diberikan.
Kasus tersebut bermula ketika Kornelis Lodo mengadukan persoalannya kepada Lopo Cerdas NasDem. Dalam laporan yang diterima pengelola Lopo Cerdas NasDem Sarah Leri Mboeik, Kornelis melaporkan dugaan pemeraan yang dilakukan Kompol Alexander Aplugi terkait penaganan kasus ijazah palsu yang dilaporkan dengan nomor laporan: LP/124/V/2014/SPKT, tanggal 12 Mei 2014 dan nomor penyidikan: SP.Sidik:156/V/2014/ Ditreskrimum, tanggal 12 Mei 2014.
Dalam proses di polisi inilah diduga terjadi pemerasan oleh Alexander Aplugi.  Sarah Leri Mboeik kepada VN di Lopo Cerdas Nasdem mengatakan, pihaknya akan mengawal kasus pemerasan itu. Ia berharap, Kapolda harus bertindak tegas terhadap oknum polisi tersebut. Karena menurut Sarah, jika pelapor saja sudah diperas, apalagi yang terlapor.
Sebelumnya, Wakapolda NTT Kombes Pol Sumartono Jochanan mengatakan, dalam setiap penanganan kasus di lingkup Polda NTT tidak ada namanya uang pelicin. Terkait masalah kasus ijazah palsu yang melibatkan salah satu penyidik Polda di Ditreskrim Umum Alexander Aplugi, dia menambahkan, kasus itu akan segera dilakukan gelar perkara sehingga semuanya terbukti termasuk kebenaran ijazah palsu tersebut, dan pemerasan yang dilakukan oleh penyidik.
“Semua kasus di Polda tidak dibenarkan adanya uang pelicin apa pun, sehingga jika dari para pelapor yang memberikan harus sesuai dengan kerelaan hati tanpa adanya unsur paksaan,” jelasnya. Penyidik Direktorat Kriminal Umum (Ditkrimum) Polda NTT Kompol Alexander Aplugi enggan berkomentar atas dugaan pemerasan terhadap Kornelis Lodo. Dia mengatakan, dirinya tidak bisa berkomentar lebih jauh. Bahkan dia beralasan bahwa hanya atasannya yang dapat berkomentar dan memberikan penjelasan terkait dengan kasus ini. (mg-04/tia/R-2)